John Herdman Turun ke Lapangan: Sinyal Perubahan Cara Kerja Timnas Indonesia

John Herdman

John Herdman

pialadunianews – Langkah kecil sering kali menandai perubahan besar. Itulah kesan yang muncul ketika John Herdman, pelatih kepala Tim Nasional Indonesia, terlihat hadir langsung di tengah sesi latihan Persija Jakarta. Tanpa seremoni berlebihan, tanpa panggung konferensi pers yang megah, Herdman memilih berdiri di pinggir lapangan, memperhatikan setiap detail, mencatat, dan berdialog. Bagi publik sepak bola nasional, momen ini bukan sekadar kunjungan biasa. Ini adalah pesan jelas bahwa cara kerja tim nasional sedang bergerak ke arah yang lebih terbuka, terstruktur, dan berbasis observasi nyata.

Sejak hari pertama menangani timnas, Herdman telah menegaskan satu prinsip: membangun tim nasional tidak bisa dilakukan dari jarak jauh. Menonton pertandingan dari tribun atau layar kaca memang penting, tetapi itu baru setengah cerita. Separuh lainnya justru tersembunyi di sesi latihan—di sana terlihat karakter, etos kerja, disiplin, dan sikap pemain ketika tidak disorot kamera.

Kunjungan ke Persija menjadi potret nyata dari filosofi tersebut.


Latihan sebagai Cermin Karakter Pemain

Di dunia sepak bola modern, kemampuan teknis bisa diasah dengan cepat. Namun karakter, mentalitas, dan kebiasaan kerja adalah fondasi yang jauh lebih sulit dibentuk. Herdman memahami hal itu. Karena itulah ia menilai sesi latihan sebagai ruang paling jujur untuk membaca seorang pemain.

Di latihan, pemain tidak berpura-pura. Intensitas kerja, cara merespons instruksi, bagaimana bereaksi ketika melakukan kesalahan, hingga interaksi dengan rekan setim—semua terlihat apa adanya. Bagi pelatih tim nasional, informasi semacam ini jauh lebih berharga dibanding satu atau dua gol spektakuler di pertandingan.

Herdman tidak mencari siapa yang paling mencolok. Ia mencari siapa yang konsisten. Siapa yang mau mendengar. Siapa yang bekerja ketika tidak ada sorotan.

Persija, sebagai salah satu klub dengan basis pemain lokal yang kuat, memberikan ruang observasi yang kaya. Mulai dari pemain muda yang masih membangun kepercayaan diri, hingga pemain senior yang memegang peran kepemimpinan, semuanya berada dalam satu ekosistem latihan yang hidup.


Keterbukaan Klub, Fondasi Kolaborasi

Salah satu hal yang paling menonjol dari kunjungan ini adalah suasana keterbukaan. Tidak ada jarak antara tim nasional dan klub. Tidak ada kesan saling curiga. Persija membuka sesi latihan, berdiskusi, dan memberi ruang bagi Herdman untuk memahami cara kerja tim dari dalam.

Dalam konteks sepak bola Indonesia, ini bukan hal sepele. Selama bertahun-tahun, relasi antara klub dan tim nasional kerap diwarnai ketegangan—mulai dari masalah jadwal, kebugaran pemain, hingga perbedaan kepentingan. Herdman datang dengan pendekatan berbeda: bukan sebagai atasan, tetapi sebagai mitra.

Ia tidak datang membawa daftar nama. Ia datang membawa pertanyaan.

  • Apa kekuatan pemain ini?
    Bagaimana mentalitasnya di latihan?
    Di posisi apa ia paling berkembang?
    Apa tantangan terbesarnya?

Pertanyaan-pertanyaan itu menunjukkan satu hal: tim nasional ingin mendengar, bukan hanya memerintah.


Memantau Pemain Muda Tanpa Tekanan Publik

Salah satu fokus utama Herdman adalah pemain muda. Namun pendekatannya jauh dari sensasi. Tidak ada label “calon bintang” yang diumbar. Tidak ada janji pemanggilan instan. Ia justru menempatkan pemain muda dalam proses jangka panjang.

Menurut Herdman, pemain muda tidak boleh dinilai dari satu momen. Mereka harus dipahami dalam konteks perkembangan. Ada yang matang lebih cepat, ada yang butuh waktu. Tugas tim nasional bukan mempercepat proses secara paksa, melainkan memastikan jalurnya benar.

Dengan melihat latihan klub, Herdman bisa menilai apakah seorang pemain muda sudah siap secara mental untuk level internasional. Bukan hanya soal fisik, tetapi juga kedewasaan mengambil keputusan, konsistensi, dan kemampuan menerima kritik.

Pendekatan ini memberi rasa aman bagi pemain. Mereka tahu sedang diamati, tetapi tidak dihakimi. Mereka tahu peluang ada, tetapi tidak instan.


Dialog Dua Arah, Bukan Pengawasan Sepihak

Kunjungan ini juga menjadi ruang dialog antara pelatih timnas dan pelatih klub. Herdman tidak datang untuk “menginspeksi”. Ia datang untuk mendengar sudut pandang orang-orang yang setiap hari bekerja dengan pemain.

Pelatih klub memahami detail yang tidak tercatat di statistik: perubahan sikap, penurunan fokus, atau lonjakan performa yang lahir dari proses panjang. Informasi semacam ini menjadi pelengkap observasi Herdman di lapangan.

Bagi klub, kehadiran pelatih timnas yang mau berdialog juga memberi kepastian. Mereka tahu pemainnya dinilai secara adil, bukan hanya berdasarkan reputasi atau tekanan publik.

Hubungan semacam ini menciptakan ekosistem sehat: klub fokus membina, tim nasional fokus menyaring dan menyatukan.

Baca juga:


Membangun Standar Baru Tim Nasional

Lebih dari sekadar kunjungan, langkah Herdman ke latihan Persija adalah simbol perubahan standar. Tim nasional tidak lagi hanya muncul saat agenda FIFA. Ia hadir sepanjang musim, menyatu dengan denyut kompetisi domestik.

Ini penting karena identitas tim nasional tidak bisa dilepaskan dari liga. Pemain timnas adalah produk dari kompetisi. Jika kompetisi tidak dipahami secara mendalam, maka tim nasional akan selalu terasa terputus dari realitas.

Herdman tampaknya ingin memutus pola lama: seleksi berdasarkan nama besar, performa sesaat, atau tekanan opini publik. Ia menggantinya dengan proses observasi berlapis, komunikasi terbuka, dan penilaian jangka panjang.


Efek Psikologis bagi Pemain

Kehadiran pelatih timnas di latihan klub juga membawa efek psikologis yang kuat. Pemain merasa diperhatikan. Bukan karena ingin dipuji, tetapi karena kerja keras mereka di latihan benar-benar dilihat.

Ini menciptakan motivasi yang sehat. Pemain tahu bahwa kesempatan ke tim nasional tidak datang dari media sosial atau sorotan kamera, melainkan dari konsistensi kerja sehari-hari.

Bagi pemain muda, pesan ini sangat penting. Mereka belajar bahwa disiplin lebih bernilai daripada sensasi. Bahwa proses lebih penting daripada popularitas.


Langkah Kecil, Dampak Jangka Panjang

pialadunianews timnas indonesia
pialadunianews timnas indonesia

Mungkin kunjungan ini tidak menghasilkan pengumuman besar. Tidak ada daftar pemain baru. Tidak ada janji kemenangan instan. Namun justru di situlah nilainya.

Sepak bola modern bangun dari detail kecil yang dilakukan secara konsisten. Datang ke latihan klub. Mengobrol dengan pelatih. Mengamati tanpa prasangka. Semua itu adalah fondasi dari sistem yang sehat.

Jika pola ini berlanjut—jika Herdman terus turun ke klub-klub, membangun dialog, dan menjaga keterbukaan—maka tim nasional Indonesia akan memiliki satu hal yang selama ini langka: kontinuitas.


Timnas yang Hadir, Bukan Menara Gading

Kunjungan John Herdman ke latihan Persija Jakarta bukan sekadar agenda kerja. Itu adalah pernyataan sikap. Tim nasional tidak berdiri di menara gading. Ia hadir di lapangan. Ia mendengar. Ia mengamati. Ia belajar.

Dalam sepak bola, perubahan besar jarang datang dari satu keputusan dramatis. Ia lahir dari kebiasaan kecil yang lakukan dengan disiplin. Jika kunjungan seperti ini menjadi budaya, bukan pengecualian, maka arah baru tim nasional Indonesia bukan lagi wacana—melainkan proses nyata yang sedang berjalan.