John Herdman dan Jalan Sunyi Menuju Mimpi Besar Timnas Indonesia
John Herdman pialadunianews
pialadunianews – John Herdman dan Jalan Sunyi Menuju Mimpi Besar Timnas Indonesia. Tidak semua pelatih datang dengan janji manis. Sebagian memilih jalan sunyi: bekerja dalam diam, menanam fondasi, lalu membiarkan hasil bicara di lapangan. John Herdman termasuk tipe kedua. Saat ia menerima tugas menukangi Timnas Indonesia, ekspektasi publik langsung meninggi. Namun, Herdman tidak pernah terlihat terburu-buru. Ia tahu, membangun tim nasional bukan soal satu turnamen, melainkan perubahan cara berpikir.
Piala AFF 2026 menjadi panggung pertama yang secara nyata menguji filosofi dan keberanian Herdman. Turnamen ini bukan hanya soal trofi, tetapi juga ujian karakter: apakah Indonesia siap keluar dari bayang-bayang “hampir juara” dan melangkah ke level berikutnya.
Akar Mentalitas: Disiplin yang Dibentuk Sejak Dini
Untuk memahami pendekatan Herdman, satu hal penting harus sadari: ia adalah pelatih yang dibesarkan oleh nilai, bukan sekadar taktik. Masa kecilnya diwarnai sosok kakek yang keras namun adil, seorang mantan tentara yang hidup dengan aturan, konsistensi, dan disiplin tinggi. Nilai-nilai itulah yang melekat kuat hingga dewasa.
Bagi Herdman, disiplin bukan soal hukuman atau larangan semata. Disiplin adalah kesadaran untuk melakukan hal benar, bahkan saat tidak ada yang mengawasi. Prinsip ini kemudian ia terjemahkan ke dunia sepak bola: tepat waktu, detail-oriented, menghormati proses, dan bertanggung jawab pada peran masing-masing.
Pendekatan ini terasa kontras dengan budaya instan yang kerap mengiringi sepak bola modern. Namun Herdman percaya, tim yang kuat tidak lahir dari gebrakan sesaat, melainkan dari kebiasaan kecil yang dijalani setiap hari.
Pelatih, Pemimpin, dan Arsitek Budaya
Herdman tidak melihat dirinya hanya sebagai pelatih teknis. Ia memosisikan diri sebagai pemimpin budaya. Di ruang ganti, ia lebih banyak berbicara tentang sikap dibanding skema. Baginya, taktik bisa berubah, formasi bisa sesuaikan, tetapi karakter harus konsisten.
Ia mendorong pemain untuk berpikir sebagai tim, bukan sekumpulan individu berbakat. Setiap sesi latihan rancang untuk menanamkan rasa tanggung jawab kolektif. Kesalahan satu pemain adalah tanggung jawab bersama. Keberhasilan satu gol adalah hasil kerja semua lini.
Pendekatan ini menuntut kedewasaan mental. Tidak semua pemain langsung nyaman. Namun Herdman tidak mengubah arah. Ia justru meyakini bahwa ketidaknyamanan awal adalah bagian dari proses tumbuh.

Grup Berat, Tantangan Nyata
Undian Piala AFF 2026 tidak memberi ruang bernapas. Indonesia tergabung di grup yang berisi tim-tim dengan tradisi kuat dan gaya bermain berbeda. Ada tim dengan organisasi rapi, ada pula yang mengandalkan intensitas dan kecepatan.
Alih-alih mengeluh, Herdman menyambut tantangan ini dengan kepala tegak. Ia melihat grup berat sebagai simulasi ideal untuk mengukur kesiapan tim. Baginya, kemenangan melawan lawan kuat jauh lebih berharga daripada menang mudah tanpa pembelajaran.
Ia menyadari bahwa di level Asia Tenggara, detail kecil sering menentukan hasil. Transisi lambat, konsentrasi menurun, atau keputusan sepersekian detik bisa mengubah jalannya pertandingan. Karena itu, fokus latihan diarahkan pada konsistensi, bukan hanya kreativitas.
Status Underdog yang Disengaja
Menariknya, Herdman tidak pernah berusaha menghapus label underdog. Justru sebaliknya, ia memeluk status tersebut dengan sadar. Dalam pandangannya, underdog adalah tim yang bebas dari tekanan berlebihan. Bebas bereksperimen, bebas bermain tanpa rasa takut kalah.
Ia ingin para pemain memahami satu hal penting: rasa percaya diri tidak datang dari pengakuan lawan, tetapi dari keyakinan internal. Jika tim tahu apa yang mereka lakukan, status apa pun tidak lagi relevan.
Pendekatan ini berdampak psikologis besar. Pemain dorong untuk menikmati tantangan, bukan menghindarinya. Setiap pertandingan diperlakukan sebagai kesempatan menunjukkan kemajuan, bukan beban yang harus ditakuti.
Masalah Klasik: Turnamen Tanpa Jendela Internasional
Salah satu ujian terberat Herdman datang bukan dari lawan, melainkan dari kalender. Piala AFF tidak selalu bersahabat dengan klub-klub luar negeri. Akibatnya, sejumlah pemain yang berkarier di liga top dunia berpotensi absen.
Situasi ini memaksa Herdman berpikir realistis. Ia tidak mengandalkan nama besar, melainkan kedalaman skuad. Fokus diarahkan pada pemain yang tersedia, siap secara fisik, dan mampu menjalankan sistem permainan.
Dalam banyak kesempatan, Herdman menekankan bahwa tim juara tidak selalu diisi pemain terbaik secara individual, tetapi pemain yang paling cocok secara kolektif. Keseimbangan peran, pemahaman taktik, dan kemauan berkorban menjadi kunci.
Strategi Tanpa Ketergantungan Bintang
Tanpa jaminan kehadiran pemain dari liga elite, Herdman membangun tim berbasis sistem. Setiap pemain harus tahu apa yang harus dilakukan dalam berbagai situasi: bertahan rendah, menyerang cepat, atau mengontrol tempo.
Ia menghindari pendekatan yang terlalu bergantung pada satu figur sentral. Jika satu pemain absen, sistem tidak boleh runtuh. Filosofi ini membuat tim lebih fleksibel dan sulit ditebak.
Latihan fokuskan pada pengambilan keputusan cepat, koordinasi antarlini, dan kemampuan membaca permainan. Herdman ingin timnya cerdas, bukan sekadar kuat.
Disiplin Tanpa Menghilangkan Kemanusiaan
Meski dikenal tegas, Herdman bukan pelatih kaku. Ia memahami bahwa pemain adalah manusia dengan emosi, tekanan, dan latar belakang berbeda. Karena itu, ia menjaga keseimbangan antara ketegasan dan empati.
Ruang dialog selalu buka. Pemain beri kesempatan menyampaikan pendapat, selama tetap dalam koridor profesional. Humor juga hadir dalam sesi latihan, sebagai alat meredakan ketegangan.
Menurut Herdman, tim yang terlalu tegang akan kehilangan kreativitas. Sebaliknya, tim yang terlalu santai akan kehilangan fokus. Keseimbangan inilah yang terus ia jaga.
Baca juga:
- Akhir yang Tak Ideal: Mengapa Proyek Xabi Alonso di Real Madrid Gagal Bertahan
- Miroslav Klose Sang Raja Gol Piala Dunia yang Sulit Tertandingi
- Keamanan Piala Dunia 2026 Terancam Gejolak Politik Amerika Serikat–Venezuela, Dunia Sepak Bola Tak Lagi Netral
Belajar dari Kompetisi Global
Pengalaman internasional Herdman membentuk cara pandangnya terhadap turnamen regional. Ia memahami bahwa sepak bola Asia Tenggara memiliki karakter unik: intensitas tinggi, atmosfer panas, dan tekanan publik yang besar.
Karena itu, persiapan mental mendapat porsi besar. Pemain dilatih menghadapi provokasi, tekanan suporter, dan momen krusial. Simulasi pertandingan buat mendekati kondisi nyata.
Herdman ingin para pemain siap bukan hanya secara fisik, tetapi juga emosional. Baginya, ketenangan di menit-menit akhir sering lebih menentukan daripada strategi di papan taktik.
Ambisi yang Tidak Sembunyikan
Berbeda dengan pelatih yang memilih merendahkan target, Herdman tidak menyembunyikan ambisinya. Ia sadar Indonesia belum pernah mengangkat trofi Piala AFF. Justru di situlah daya tariknya.
Ambisi ini bukan sekadar slogan. Ia diterjemahkan ke dalam standar kerja tinggi, evaluasi rutin, dan tuntutan konsistensi. Setiap pertandingan adalah langkah menuju tujuan besar, bukan sekadar formalitas.
Namun Herdman juga realistis. Ia memahami bahwa proses tidak selalu linear. Kekalahan bisa terjadi. Yang terpenting adalah bagaimana tim merespons dan belajar darinya.
Lebih dari Sekadar Turnamen
Bagi Herdman, Piala AFF 2026 bukan akhir perjalanan. Turnamen ini adalah batu loncatan untuk perubahan jangka panjang. Ia ingin meninggalkan warisan berupa budaya kerja, standar profesional, dan kepercayaan diri kolektif.
Jika Indonesia gagal juara, ia ingin kegagalan itu bermakna. Jika Indonesia sukses, ia ingin kesuksesan itu berkelanjutan. Tidak ada ruang untuk euforia sesaat.
Jalan Panjang, Arah Jelas
John Herdman membawa lebih dari sekadar pengalaman internasional. Ia membawa filosofi, disiplin, dan keberanian untuk menantang kebiasaan lama. Di tengah tekanan publik dan ekspektasi tinggi, ia memilih bekerja tenang dan sistematis.
Apakah Piala AFF 2026 akan berakhir dengan trofi? Tidak ada yang bisa memastikan. Namun satu hal jelas: bawah Herdman, Timnas Indonesia tidak lagi berjalan tanpa arah. Jalan mungkin panjang dan terjal, tetapi arahnya kini lebih jelas dari sebelumnya.
